Tawanan Roh

 

artworks-000073275337-h5vmcx-crop

Kamis, 27 Februari 2014

Ps. Lukas Sutikno Wijaya

 

Sekarang kita ini ada dalam masa percepatan sehingga mau tidak mau kita harus menjadi tawanan Roh. Jika dalam percepatan kita tidak menjadi tawanan Roh, maka akan sangat susah bagi kita karena kedagingan kita sangat ajaib, sehingga banyak hal yang dapat membuat kita selalu ingin lari dari Tuhan. Untuk itu kita harus meminta kepada Tuhan agar kita dijadikan tawanan Roh.

Kisah Para Rasul 20:22

Paulus mengatakan bahwa dia adalah tawanan Roh. Arti tawanan adalah dia sudah tidak berhak atas hidupnya sendiri. Hak orang yang ditawan berada pada orang yang menawan. Untuk dapat mengikuti setiap percepatan Tuhan maka kita perlu untuk menjadi tawanan Roh, karena jika kita tidak menjadi tawanan Roh maka kita tidak akan dapat mencapai garis akhir. Kedagingan kita seringkali mengakibatkan kita keluar dari kehendak dan rencana Tuhan, kita dapat keluar dari jalur yang telah direncanakan Tuhan untuk kita.  Hanya dengan menjadi tawanan Roh kita dapat tetap berada dalam jalur yang dirancangkan Tuhan, agar kita dapat mengalami berkat Tuhan secara luar biasa dan sampai maksimal.

Saat kita menjadi tawanan Roh kita sudah tidak bisa lagi memakai kemauan kita, artinya kita serahkan hidup kita total kepada Tuhan, karena setiap tawanan harus ikut kepada orang yang menawan orang tersebut sebab dia sudah tidak memiliki hak lagi atas dirinya.

Galatia 2:20

Sekarang hidup kita ini bukan milik kita lagi, artinya dalam keseharian kita perlu selalu tanya kepada Tuhan: “Tuhan apa yang harus aku lakukan?”. Kadang hidup kita ini hanya semau keinginan kita saja, ini membuat kita susah untuk mencapai garis akhir. Sering kali keinginan kita, obsesi kita, dan keegoan kita justru membuat kita menjauh dari Tuhan. Sebagai contoh, banyak di antara kita yang lebih suka untuk menonton televisi daripada membaca Alkitab. Untuk menjadi tawanan Roh, kita harus belajar untuk mengikuti apa yang menjadi kemauan Tuhan. Sebagai contoh, saat kita sedang menonton televisi, tiba-tiba Tuhan menyuruh kita untuk berdoa, maka jika kita sudah menjadi tawanan Roh, respon kita yang benar adalah mengatakan “Ya, Tuhan” dan kemudian mematikan televisi dan berdoa. Hal ini sangat tidak enak, karena daging kita akan lebih memilih menonton televisi daripada berdoa. Tetapi kita perlu melatih diri kita ini untuk menjadi tawanan Roh, karena jika kita memberikan celah bagi daging untuk menguasai diri kita, maka akan mengakibatkan kita keluar dari jalur yang telah dirancangkan Tuhan bagi kita. Hidup kita telah ditebus oleh Tuhan, semestinya kita sudah tidak memiliki hak atas hidup kita ini, artinya kehendak bebas yang kita miliki harus diserahkan kepada Tuhan. Jika kita tidak melatih untuk menyangkal diri dan mengikut Tuhan maka kita tidaka akan dapat menjadi dewasa secara rohani.

Yohanes 4:34

Ketika berbicara tentang melakukan kehendak Tuhan, bukan sekedar berdoa dan menyembah, bukan sekedar pelayanan, tetapi juga melakukan segala sesuatu dengan tepat seperti yang Tuhan mau. Sebagai contoh, dalam pekerjaan kita tahu bahwa korupsi itu salah, maka kita tidak perlu melakukan korupsi, maka kita ini akan menjadi garam dan terang dunia. Saat kita menjadi garam dan terang dunia, maka kita ini sedang melakukan kehendak Bapa. Jika kita berdoa, membaca Alkitab, pergi ke gereja atau persekutuan, itu merupakan salah satu bagian dari melakukan kehendak Bapa. Tetapi tidak hanya sebatas hal tersebut, bahkan dalam keseharian kita dan dalam pekerjaan kita, kita pun dapat melakukan kehendak Bapa.

Saat kita dalam pekerjaan kita sehari-hari tetapi menjadi batu sandungan bagi orang lain, misal: menggosip, menjelek-jelekkan orang lain, dll., maka kita tidak menjadi garam dan terang dunia, kita tidak sedang melakukan kehendak Bapa. Yesus berkata: “Aku melakukan kehendak Bapa”, untuk kita dapat melakukan kehendak Bapa, kita harus tanya kepada Bapa apa yang harus kita lakukan untuk Dia. Misal ketika Tuhan ingin kita sharing kepada seseorang tentang suatu hal, maka lakukanlah, karena siapa tahu orang yang kita aja sharing bisa diselamatkan. Belajarlah untuk selalu bertanya kepada Tuhan: “Tuhan, aku harus bagaimana? Harus melakukan apa?”

Cara agar kita menjadi tawanan Roh:

  1. Mata kita tertuju kepada Tuhan. Saat kita menjadi tawanan Roh, maka mata kita harus diserahkan kepada Tuhan. Kita harus belajar untuk tidak melihat hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, misal: film porno. Saat kita menggunakan mata kita untuk melihat film porno, maka kita sedang membuka celah untuk mengundang roh perzinahan masuk. Belajarlah saat kita hendak melihat sesuatu, misalnya mau menonton film, kita bertanya dahulu pada Tuhan: “Tuhan boleh tidak aku menonton film ini?” Jika Tuhan jawab: “Jangan!”, ya jangan kita lakukan karena Tuhan lebih tahu tentang hidup kita. Ada beberapa orang tertentu tidak diperbolehkan Tuhan untuk menonton film kung fu, karena pada saat mereka menonton film kung fu, maka adrenalinnya akan meningkat dan emosinya akan meningkat. Bahkan ada beberapa orang yang hanya diperbolehkan Tuhan menonton acara olah raga, tetapi berita tidak boleh, karena saat mereka menonton berita maka pikiran-pikiran negatif masuk dalam hidupnya, misalnya: ketakutan.
  2. Telinga kita diserahkan kepada Tuhan. Kita harus meminta kepada Tuhan agar pendengaran kita diberikan filter. Jangan biarkan telinga kita mendegar hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, misalnya: mendegarkan gosip, kepahitan, dll. Saat kita mendegarkan orang lain menggosip atau pun menceritakan kepahitan maka hal tersebut dapat mempengaruhi hidup kita. Saat kita menghadapi situasi di mana ada orang yang bercerita negatif, maka kita harus tegas menolak, atau pun jika terpaksa mendengarkan maka kita harus berdoa untuk mengebaskan perkataan-perkataan negatif yang telah kita dengarkan tersebut. Lebih baik kita dengarkan sesuatu yang baik dan membangun semisal firman Tuhan, hal ini akan membuat hidup kita semakin dekat dengan Tuhan.
  3. Mulut kita diserahkan kepada Tuhan. Setiap pembicaraan kita minta Tuhan agar berjaga-jaga pada pintu mulut karena firman Tuhan mengatakan bahwa hidup kita dikuasai oleh lidah kita, barang siapa menggemakannya akan memakan buahnya. Menurut apa yang tercatat di Alkitab, lidah merupakan organ terkecil dalam tubuh yang paling susah untuk dikendalikan. Kita harus belajar saat bercerita kepada orang lain dengan apa adanya, janganlah kita menambah-nambahi cerita yang sebenarnya. Kita juga harus mengontrol amarah atau emosi kita agar lidah kita tidak sampai memperkatakan hal-hal yang buruk.
  4. Pikiran kita diserahkan kepada Tuhan. Belajarlah untuk melupakan memori dan trauma-trauma yang menakutkan dalam hidup kita. Lupakan masa lalu kita dan marilah kita arahkan mata kita kepada Tuhan. Kita harus belajar untuk selalu mengucap syukur, jangan isi pikiran kita dengan ketakutan dan kekhawatiran, isilah pikiran kita dengan segala sesuatu yang manis dan sedap didengar.
  5. Serahkan hati kita kepada Tuhan. Amsal mengatakan bahwa “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah memancar kehidupan.” Untuk menjaga hati kita, kita itu perlu Tuhan, karena Alkitab mengatakan: “Liciknya hati siapa yang mengetahui?”. Konon, Leonardo da Vinci saat akan melukis “The Last Supper”, melakukan penelitian untuk mencari wajah orang yang memiliki karakter sama dengan karakter tokoh-tokoh dalam Alkitab. Da Vinci menemukan seseorang yang wajahnya cocok dengan karakter Yesus, sehingga dia menjadikan orang tersebut model dalam lukisannya. Kemudian selang berlalunya waktu, da Vinci akan melukis Yudas, sehingga dia mencari wajah model yang cocok di dalam penjara, dan akhirnya dia menemukan orang yang cocok. Saat bertemu, orang tersebut mengatakan “Apakah Anda masih ingat dengan saya?”, lalu da Vinci menjawab “Maaf saya tidak ingat. Memangnya Anda siapa?”. Kemudian orang tersebut menjawab “Beberapa waktu yang lalu Anda melukis saya sebagai model Yesus.” Lalu da Vinci bertanya “Kenapa Anda bisa masuk ke dalam penjara?” Orang tersebut berkata bahwa dia telah mengalami berbagai macam hal yang berat dan akhirnya dia jatuh menjadi seorang pencuri sehingga akhirnya dia masuk ke dalam penjara. Dari cerita ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa hati seseorang itu dapat berubah. Awalnya orang yang menjadi model Yesus dalam lukisan da Vinci, mungkin hatinya memancarkan kasih seperti Yesus, tetapi setelah dia diproses ternyata dia tidak kuat sehingga dia jatuh dan akhirnya hatinya berubah. Hati kita ini dapat memancarkan kehidupan atau pun sebaliknya. Setiap ada proses dalam hidup kita, janganlah kita menjadi kecewa, jangan kepahitan. Misal ketika seseorang kepahitan dan kecewa kepada pemimpinnya, kemudian dia memutuskan untuk keluar dan mencari tempat baru dengan pemimpin baru, karena orang tersebut menyimpan kepahitan dan kekecewaan maka di tempat yang baru dan dengan pemimpin yang baru pun akan mengalami hal yang sama. Oleh karena itu perlu namanya pemberesan atas segala kepahitan dan kekecewaan dalam hati kita. Jika hati kita beres, maka dengan orang lain pun akan beres hubungannya. Jangan biarkan kepahitan dan kekecewaan menggerogoti hati kita supaya jangan sampai hidup kita tidak mencapai destiny yang telah ditentukan Tuhan bagi kita.
  6. Belajar menyerahkan keinginan kita. Contoh menyerahkan keinginan adalah semisal saat kita menginginkan mobil, maka serahkan keinginan tersebut kepada Tuhan, bicara saja kepada Tuhan: “Tuhan, aku ini ingin mobil”. Misalnya kita ada sebuah cita-cita yang ingin dicapai, bicara saja mengenai hal tersebut kepada Tuhan. Diserahkan juga memiliki arti tidak dipikirkan terus-menerus. Contoh dipikirkan terus-menerus adalah saat kita berkata: “Kok mobil tidak datang-datang ya? Kok cita-citaku belum tercapai ya?”, itu namanya tidak diserahkan tetapi dipegang erat-erat. Saat menyerahkan keinginan kita, kita jangan mengotot, serahkan saja secara total agar kehendak Tuhan yang jadi. Saat kita semakin ngotot, maka itu akan menguras tenaga kita.
  7. Kaki kita diserahkan kepada Tuhan. Kaki kita diserahkan kepada Tuhan agar kita melangkah sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Kaki juga berbicara tentang pelayanan. Ketika kita melakukan pelayanan kepada  Tuhan, maka kita harus tanya kepada Tuhan: “Tuhan, panggilanku itu apa? Apa yang bisa aku perbuat? Bagaimana tentang pelayananku?”. Saat kita melayani sering kali kita berpikir bahwa pelayanan yang ideal adalah seperti ini dan seperti itu, seharusnya yang perlu kita lakukan adalah serahkan sepenuhnya pelayanan kita kepada Tuhan, agar apa yang terjadi tepat seperti yang Tuhan mau dan bukan seperti idealisme kita. Hari-hari ini keempat kuda di kitab Wahyu sedang dilepaskan, salah satunya ada kuda hijau kekuningan dan kuda ini membawa penyakit dan wabah. Salah satu cara agar kita dapat terhindar adalah dengan memakan apel setiap hari. Di Amerika ada slogan: “An apple a day keeps you healthy (makan satu apel sehari akan membuat kita sehat)”.
  8. Mintalah berkat yang dicurahkan Tuhan pada saat yang tepat. Tuhan mencurahkan berkat kepada umat-Nya terjadi pada saat-saat tertentu, ada jam-jam tertentu. Tugas kita adalah tinggal menggambil berkat-berkat yang dicurahkan. Saat-saat Tuhan mencurahkan berkat adalah antara jam 00.00 – 05.00, oleh karena itu marilah kita minta kepada Tuhan agar kita dapat bangun pagi-pagi untuk mengambil berkat. Ketika Tuhan memberikan manna pada bangsa Israel bukan saat di siang hari, tetapi di saat dini hari, sebab saat matahari keluar maka manna tersebut akan mencair. Mari kita bangun pagi-pagi dan mengambil segala berkat yang dicurahkan dengan cara memperkatakan: “Tuhan, aku ambil setiap berkat yang sudah Kau berikan dalam hidupku di dalam nama Tuhan Yesus, amin”, dan hal tersebut harus dilakukan dengan percaya. Belajarlah melakukan segala hal yang profetik. Saat kita disuruh Tuhan untuk melakukan sesuatu, maka harus kita kerjakan, sebab jika tidak maka akibatnya akan fatal. Suatu saat ada hamba Tuhan yang disuruh oleh Tuhan untuk bangun pagi-pagi meminta berkat, maka dia lakukan hal tersebut dan tiba-tiba dia mendapat berkat sebanyak 400 juta di dalam rekeningnya. Kemudian ada lagi seseorang di Bitung yang disuruh Tuhan untuk melakukan doa keliling pagi-pagi, tetapi orang tersebut tidak melakukan seperti yang Tuhan mau sehingga dia mengalami kecelakaan demi kecelakaan dan akhirnya dia bertobat. Saat jika kita tidak menjalankan apa yang Tuhan suruh, efeknya sering kali tidak hanya untuk kita, tetapi bisa ke mana-mana.

Bilangan 28:1

Ketika kita berdoa dan menyembah di hadapan Tuhan, kita ini sedang memberikan santapan di hadapan Tuhan. Saat memberikan santapan seharusnya selalu ada rasanya, sebab yang namanya makanan pasti ada rasanya. Jadi saat kita berdoa, menyembah, dan memuji Tuhan, rasa seperti apa yang kita berikan kepada Tuhan? Ingat, bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang memiliki selera, Dia adalah pribadi yang hidup, bukan pribadi yang mati. Jadi saat kita mau berdoa atau menyembah Tuhan, tanyalah kepada Tuhan: “Tuhan, Engkau mau aku ini menyembah dengan cara apa?”, dan ketika Tuhan berkata: “Aku ingin engkau menyembah dengan tarian.”, maka menarilah. Sering kali kita berprinsip bahwa yang namanya penyembahan selalu dengan menggunakan bahasa roh, teriak, atau menyanyi keras-keras, padahal tidak selalu harus seperti itu. Ingat, Tuhan kita adalah Tuhan yang memiliki selera. Jangan monoton di hadapan Tuhan. Bahkan ketika kita memberikan persembahan pun kita harus tanya kepada Tuhan berapa atau apa yang harus kita beri, sebab itu merupakan suatu korban di hadapan Tuhan, suatu santapan bagi Tuhan. Buat hidup kita ini berkenan di hadapan Tuhan. Jangan sampai Tuhan berkata: “Aku muak dengan makanan ini”, itu artinya penyembahan kita tidak berkenan di hadapan Tuhan. Belajar untuk tanya kepada Tuhan maunya Beliau apa. Jika Tuhan bilang: “Berlutut nak!”, ya kita harus berlutut. Saat Tuhan bilang: “Tersungkur nak!”, ya kita harus tersungkur di hadapan Tuhan. Ikutilah apa yang Tuhan mau, saat disuruh doa untuk bangsa ya doakan bangsa kita, saat kita disuruh doa keliling ya kita lakukan.

Mari berikan waktu yang terbaik buat Tuhan. Bagian kita sebenarnya cukup simpel: berdoa, mengucap syukur pada Tuhan, kita ambil berkat yang Tuhan telah berikan. Sering kali anak-anak Tuhan tidak terima berkat karena mereka melakukan tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Belajarlah mengikis kedagingan kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s