Keledai

minggu-palma-10

Minggu, 25 Maret 2014

Ps. Lukas Sutikno Wijaya

Matius 21:1-11

Firman ini menggambarkan bahwa hal tersebut merupakan hubungan kita dengan Tuhan, keledai betina yang digambarkan di firman tersebut merupakan kita sebagai mempelai-Nya Tuhan.

  1. Menjadi keledai yang dilepaskan dari tambatannya.

Dikatakan bahwa seekor keledai tersebut ‘tertambat’, tertambat memiliki arti terikat, dulu hidup kita ini tertambat pada dosa. Tetapi ketika ada Yesus, Dia mengatakan: “Lepaskanlah dia!”. Hidup kita juga sama, saat Tuhan Yesus masuk dalam hidup kita maka Dia akan berkata: “Lepaskanlah dia!”, sebab hidup kita akan dipakai oleh Tuhan, seperti Yesus memakai keledai yang tertambat. Oleh sebab itu ada orang-orang yang dipanggil, dipilih, dan ditetapkan. Detik ketika terima Tuhan Yesus maka kita ini dibebaskan dari dosa-dosa kita, maka kita termasuk orang-orang yang dipanggil. Langkah berikutnya adalah menjadi orang-orang yang dipilih. Seperti apa pun hidup kita ini, saat Tuhan memerlukan hidup kita maka akan terjadi kelepasan yang dari Tuhan. Hidup kita perlu dilepaskan baru Tuhan bisa memakainya. Seperti keledai yang tetap tertambat tanpa dilepaskan, bagaimanakah keledai tersebut bisa dipakai oleh Yesus, dan Yesus tidak bisa dimuliakan. Untuk hidup kita bisa memuliakan Tuhan Yesus, maka hidup kita ini harus dilepaskan dari keterikatan dari manusia lama kita.

  1. Menjadi keledai yang bodoh.

Kemudian selama hidup kita ini dipakai Tuhan, Tuhan inginkan agar hidup kita ini seperti keledai, yaitu ‘bodoh’, sebab keledai itu melambangkan binatang yang paling bodoh. Artinya saat Tuhan pakai hidup anak-anak-Nya, sering kali anak-anak-Nya ini merasa sok pintar. Sering kali anak-anak Tuhan memakai inisiatifnya sendiri, merasa mampu, merasa bisa, padahal Tuhan inginkan agar kita ini mengandalkan arahan dari Tuhan.

1 Samuel 13:5-14

Seperti Saul yang mengambil inisiatif sendiri, bahkan inisiatif tersebut dikemas dalam hal rohani, hukumnya yang seharusnya memberikan korban bakaran adalah Samuel dan Saul tidak berhak. Misalnya adalam hal perpuluhan, ada orang-orang yang mengambil inisiatif sendiri untuk membagi-bagi perpuluhan dengan alasan yang rohani, semestinya Tuhan tidak menyukai hal tersebut. Saat kita ingin memberkati orang lain, seharusnya memberi di luar dari perpuluhan. Saat inisiatif yang berperan maka hidup kita tidak akan berada dalam ketepatan bersama Tuhan.

Matius 21:5

Keledai yang dipakai Tuhan adalah keledai beban yang muda. Artinya adalah saat kita dipakai oleh Tuhan kita harus memiliki tanggung jawab memikul beban. Saat Tuhan menyuruh untuk melakukan sesuatu, maka hidup kita seharusnya tidak perlu ada pertimbangan-pertimbangan tetapi harus segera melaksanakannya. Kadang Tuhan ingin kita ini memiliki jiwa yang muda, karena anak-anak muda saat disuruh biasanya tidak berpikir dan biasanya melakukan dulu, berpikirnya di belakang. Dalam hidup kita harus sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Dalam mengambil keputusan kita seharusnya tanya terlebih dahulu kepada Roh Kudus. Jika kita sok pintar, maka ujung-ujungnya ada kehancuran. Jika saja Hawa sebelum makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat berkonsultasi terlebih dahulu dengan Tuhan, maka seharusnya tidak akan terjadi kejatuhan manusia. Kita harus melatih berkonsultasi dengan Tuhan melalui hal-hal yang simpel, misal tanya Tuhan hari ini kita harus pakai baju model seperti apa dan warna apa, hari ini mau masak apa, dan lain sebagainya. Dari hal yang simpel tersebut, maka saat kita mengalami sesuatu yang besar maka kita akan dapat menunggu terlebih dahulu arahan dari Tuhan. Lucifer jatuh karena dia mengambil inisiatif untuk menyamai Tuhan, sehingga mengambil keputusan karena kita sok pintar dapat disamakan dengan dosa kesombongan.

Konon ada malaikat bernama Azazeel, dia melihat banyak manusia di bumi yang diperdaya oleh Lucifer, maka Azazeel mengambil insiatif untuk membantu manusia yang ada di bumi untuk menolong dan mengajari manusia untuk menghadapi Lucifer. Tetapi pada saat Azazeel akan kembali ke surga, Tuhan menolak dia karena Azazeel tidak bertanya dahulu pada Tuhan akan perbuatan yang akan dilakukannya.

Pada saat Saul berperang dengan bangsa Amalek dan Tuhan memerintahkan agar semua orang Amalek beserta ternak-ternaknya harus ditumpas habis, namun Saul tidak melakukan tepat seperti yang Tuhan mau. Hewan-hewan ternak bangsa Amalek tidak ditumpas bahkan Agag, raja bangsa Amalek, tidak dibunuh, Saul lebih mendegarkan suara rakyatnya padahal Saul lah raja atas mereka. Hal ini menimbulkan ketidaksukaan Tuhan terhadap Saul.

Matius 21:6

  1. Menjadi keledai yang tidak lupa diri.

Ketika kita dipakai Tuhan, kita harus sadar bahwa kita ini hanya sebuah alat. Jangan sampai kita merasa hebat. Suatu saat pak Lukas didoakan oleh seorang hamba Tuhan, dan hamba Tuhan tersebut berkata: “Saya melihat sarung tangan emas”. Waktu itu pak Lukas tidak mengerti arti ‘sarung tangan emas’ tersebut. Kemudian pada saat pak Lukas sedang menyembah Tuhan, Tuhan berkata: “Engkau tahu artinya sarung tangan emas? Itu artinya hanyalah sebuah alat. Engkau itu tidak lebih daripada sebuah sarung tangan”. Jadi dari bahan apa pun sarung tangan itu, walaupun dari emas sekali pun, namun itu tetaplah hanya sarung tangan, yang berharga adalah tangan yang memakai sarung tangan tersebut (Tuhan). Ketika sarung tangan tersebut dilepas, apakah sarung tangan tersebut bisa melakukan sesuatu? Tidak, bukan?! Sering kali ketika hidup kita dipakai oleh Tuhan, diberkati oleh Tuhan, seakan-akan diri kita ini yang hebat, padahal Tuhanlah yang hebat. Yang membuat kita hebat ini sebenarnya adalah siapa yang di balik diri kita ini, yaitu Tuhan, sekali pun kita ini tidak ada apa-apanya. Pada saat Yesus ditinggikan dan dielu-elukan saat naik keledai (kita), apa yang terjadi saat keledai (kita) tersebut merasa dipuji dan mencuri kemuliaan kemudian tiba-tiba keledai (kita) tersebut berdiri dan menerima pujian maka Tuhan Yesus akan jatuh, artinya keledai (kita) tersebut mencuri kemuliaan Tuhan.

Oleh karena itu, kita harus minta pada Tuhan agar diri kita dilepaskan dari segala ikatan manusia lama kita, jangan memiliki inisiatif sendiri, dan janganlah lupa diri sebab semua berasal dari Tuhan.

Roma 8:28

Mari belajar untuk rendah hati dan jangan mencuri kemuliaan Tuhan, semuanya hanya untuk kemuliaan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s