Kehidupan dan Kematian

3d rendering of signs with

30 Maret 2014

Ps. Lukas Sutikno Wijaya

Ulangan 30:15-20

Dalam hidup, kita hanya diberikan dua pilihan: kehidupan atau kematian. Tetapi saat kita memilih, Tuhan mengatakan agar kita memilih kehidupan. Setiap pilihan yang kita lakukan akan berpengaruh pada pilihan-pilihan yang kita ambil berikutnya. Saat kita mengambil pilihan yang salah dan kita tidak bertobat maka akhirnya akan tidak baik, misal saat kita mengambil keputusan untuk berbohong akan sesuatu, maka akan mengakibatkan kita akan berbohong terus-menerus. Jadi saat kita memilih kematian, maka berikutnya kita akan memilih kematian demi kematian, baik secara rohani maupun secara duniawi.

Pilihannya hanya kehidupan atau kematian, hitam atau putih. Tidak bisa kita memilih di tengah-tengahnya, sebab itu sama saja dengan suam-suam kuku yang berujung pada kematian. Kalau kita memilih untuk hidup ikut dengan Tuhan maka kita harus ikut Tuhan dengan sungguh-sungguh. Pada ayat 19, dikatakan bahwa Tuhan memperhadapkan kita pada kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Namun Tuhan mengatakan agar kita memilih kehidupan supaya hidup kita dan keturunan kita baik.

Cara memilih kehidupan bagaimana? Mari kita lihat pada ayat 20 di mana Tuhan mengatakan agar kita mengasihi Tuhan, mendegarkan suara-Nya, dan berpaut kepada-Nya.

1. Mengasihi Tuhan

Untuk mengasihi Tuhan, maka kita perlu untuk mengenal Tuhan dengan baik, kita harus memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika seseorang mengatakan mencintai Tuhan tetapi tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan maka orang tersebut sebenarnya tidak mengasihi Tuhan, yang dilakukannya hanya sekedar lips service. Saat kita mengasihi Tuhan maka apa yang akan kita lakukan akan memilih kehidupan dan kita akan menyenangkan hati Tuhan. Mari kita belajar saat mengatakan “Aku mengasihi Tuhan”, maka kita lihat berapa banyak yang kita lakukan untuk Tuhan? Kita diciptakan bukan untuk menjadi robot, karena Tuhan memberikan freewill bagi kita. Tuhan selalu memberikan rancangan yang terbaik bagi manusia, bahkan pada awalnya Tuhan tidak pernah rancangkan Adam dan Hawa untuk jatuh, namun mereka jatuh karena adanya freewill. Oleh karena itu, saat kita kita merasa berbeban berat sebenarnya itu adalah karena pilihan kita untuk merasa berbeban berat. Tuhan senantiasa memperhadapkan kita kepada berbagai macam pilihan, namun jika kita memilih pilihan yang berasal dari kedagingan kita maka ujung-ujungnya adalah maut.

Contohnya adalah Lot (arti kata Lot = cover/perlindungan, dan yang meng-cover Lot pada saat itu adalah Abraham) yang sangat diberkati Tuhan hingga pada suatu saat terjadi pertengkaran antara gembala Lot dengan gembala Abraham, sehingga Abraham mempersilahkan untuk Lot memilih tanah yang akan Lot diami. Jika Lot bergaul dengan Tuhan benar-benar, seharusnya dia akan mempersilahkan Abraham sebagai orang meng-cover-nya untuk memilih terlebih dahulu dan hidupnya tidak akan berantakan. Namun apa yang Lot pilih adalah pilihan yang berasal dari kedagingannya. Jika kita bergaul benar-benar dengan Tuhan maka setiap keputusan seharusnya diperhadapkan kepada Tuhan agar Tuhan yang arahkan supaya kita mendapatkan kehidupan. Dalam kasus Lot, Lot memilih daerah Sodom (arti Sodom = their secret/rahasia mereka) dan Gomorah (arti Gomorah = rebelious people/orang-orang pemberontak). Jika kita dalam mengambil keputusan tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan Tuhan maka sebenarnya kita ini sudah memberontak kepada Tuhan dan ujungnya adalah kematian. Jika kita menuruti kedagingan/keinginan kita sendiri maka iblis akan tawarkan sesuai yang indah di depan, namun ujungnya adalah maut. Dikatakan bahwa Sodom dan Gomorah itu sangat indah dan subur, seperti taman Eden, namun ternyata ujungnya maut.

Jadi sebenarnya yang tahu apa yang terbaik untuk kedepannya adalah Tuhan, oleh karena itu belajarlah untuk memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, jika kita akan melakukan pilihan atau memiliki keinginan belajarlah untuk menyodorkan pilihan tersebut kepada Tuhan dan berkata: “Tuhan, Engkau mau yang mana?” Simson juga menjadi contoh bagaimana dia tidak belajar untuk berjalan dengan Tuhan, saat dia menyukai perempuan Filistin memang karena penentuan dari Tuhan untuk menciptakan gara-gara, namun Simson tidak belajar dan mulai menyukai Delilah (arti Delilah = kecil) yang bukan dari Tuhan.

2. Mendengarkan suara Tuhan

Kita tidak akan pernah mendegarkan suara Tuhan jika kita tidak memiliki hubungan dengan Tuhan. Untuk memiliki hubungan dengan Tuhan tidak bisa dibangun secara instan, namun perlu waktu. Bagaimana kita bisa mendengar suara Tuhan jika kita datang kepada Tuhan saat menghadapi masalah? Hubungan dengan Tuhan itu perlu dibangun hari demi hari, bahkan hubungan tersebut akan sampai pada level di mana Tuhan tidak berbicara namun hanya memberikan kode dan kita akan mengetahui maksud dan kehedak Tuhan.

3. Hidup berpaut pada Tuhan

Hidup berpaut pada Tuhan artinya berserah/bergantung penuh pada Tuhan, sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Pada saat kita mengatakan bahwa “Aku bisa melakukan dengan kekuatanku” artinya hidup kita tidak berpaut pada Tuhan dan pilihan yang kita tentukan berasal dari diri kita, seharus kita sadar dan mengatakan “Tuhan, aku ini tidak bisa apa-apa tanpa-Mu, biar Engkau yang tentukan ya Tuhan” maka Tuhan yang akan turun tangan dan memilihkan yang terbaik untuk kita. Lucifer jatuh karena dia tidak berpaut pada Tuhan dan sadar dia tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan, dia berkata “Aku ini bisa, Tuhan. Aku ingin seperti Engkau”, detik ketika dia bersikap seperti itu maka dia jatuh. Saat kita memilih yang dari kedagingan kita maka tanpa sadar ujung-ujungnya adalah pemberontakan, sebab pemberontakan tidak selalu karena menghujat Tuhan, tetapi kita harus berhati-hati tidak melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan kita sendiri namun belajarlah menyerahkan setiap keputusan kepada Tuhan.

Mari kita kejar Tuhan lebih lagi, sebab hari-hari ini sudah semakin singkat. Sudah banyak hamba Tuhan yang berada di berbagai belahan dunia menyampaikan hal yang sama, yaitu hari kedatangan Tuhan sudah sangat dekat. Kadang kita harus berpikir “Tuhan, jika Engkau datang kelak, apakah Engkau akan dapati aku ini sudah bekerja sesuai dengan porsiku atau belum? Apakah aku sudah genapkan dan sudah tuntaskan tugasku atau belum?”. Jika hubungan kita tidak intim dengan Tuhan, bagaimana kita bisa mengerti destiny dan apa yang Tuhan mau dari hidup kita? Sebab Tuhan itu sudah menetapkan destiny dari diri kita masing-masing, Tuhan sudah atur semuanya. Namun sering kali saat kita tidak bisa mencapai destiny kita sebenarnya hal tersebut dikarenakan pilihan-pilihan kita sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Orang yang bergantung penuh pada Tuhan sudah tidak akan lagi berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi yang dia bicarakan selalu tentang Tuhan. Kita ini hanya alatnya Tuhan dan yang namanya alat tidak bisa bermegah atas dirinya sendiri, tetapi yang empunya alat yaitu Tuhan saja yang bisa bermegah sebab Dia yang mempunyai kuasa.

Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s