Arti Iman

faith

13 April 2014 

Ps. Lukas Sutikno Wijaya

Matius 21:18-22

Pada dasarnya, jika kita mengerti arti iman maka hal tersebut akan mengubah hidup kita. Apa yang tidak ada akan menjadi ada. Tetapi kenapa di dalam firman, Yesus berkata bahwa kita sanggup mengutuk pohon ara dan memindahkan gunung jika kita percaya, namun pada kenyataannya sampai saat ini mungkin kita belum mampu. Berapa banyak dari kita yang belum mampu memindahkan gunung-gunung permasalahan dalam hidup kita? Berapa banyak dari kita yang saat ini masih bergumul dengan gunung masalah keuangan kita? Sering kali kita tidak bisa memberakan arti iman dan mengimani. Sebagai contoh saat seseorang mengingkan mobil dan yang dia lakukan adalah menumpangkan tangan ke atas mobil tersebut dan berdoa: “Dalam nama Tuhan Yesus jadi milikku!”, namun setelah bertahun-tahun menunggu mobil tersebut tidak didapatkan. Hal yang dilakukan ini namanya adalah mengimani, bukan iman.

Roma 10:17

Iman dapat muncul lewat rhema. Ketika kita mengimani itu artinya memakai kekuatan diri sendiri. Sedangkan yang mampu membuat gunung itu pindah adalah karena kuasa Tuhan, bukan karena kuasa diri kita sendiri. Sering kali yang kita lakukan adalah mengimani bukan memiliki iman. Dengan mengimani, maka kita hanya menggunakan kekuatan diri sendiri dan hal ini tidak akan dapat mengubah apa pun. Yang dapat mengubah segala sesuatu hanyalah Tuhan. Sedangkan iman itu sendiri muncul jika kita mendengarkan suara Tuhan yang menjadi rhema dan kita percaya, inilah yang disebut iman. Sering kali kita hanya mengimani dan tidak kita dapatkan serta ujungnya kecewa kepada Tuhan. Belajarlah memiliki iman, bukan sekedar mengimani.

Untuk mendapatkan sesuatu yang kita ingini caranya cukup simpel. Ajukan apa yang kita ingini kepada Bapa dan tunggu Dia berbicara apa. Jika Bapa bilang “Baik nak, kamu akan dapat”, maka yang perlu kita lakukan adalah mengimani dan menunggu waktu yang dari Tuhan serta melakukan apa yang Dia suruh. Namun jika Bapa bilang “Belum waktunya”, maka tidak perlu kita membuang waktu dan tenaga untuk menumpang tangan pada sesuatu yang kita inginkan tersebut. Sebab kita perlu ingat bahwa yang dapat mengubah nothing to something itu hanya Tuhan. Untuk bisa timbul iman perlu adanya rhema, bukan karena keinginan diri kita sendiri. Dalam iman memiliki tingkatan demi tingkatan, belajarlah dari hal-hal yang kecil dahulu sampai kita di bawa kepada hal-hal yang besar.

Roma 1:17

Dari iman kepada iman, artinya belajar dari iman dari hal yang kecil sampai kepada iman hal yang besar. Iman itu ada ukurannya, iman adalah level trust kita kepada Tuhan. Dalam hal keuangan, jangan ukur iman kita pada seberapa besar gaji yang kita terima karena hal tersebut akan mengkotakkan iman kita maksimal sampai level besaran gaji kita, padahal seharusnya bisa lebih. Kita harus melalui tahapan demi tahapan level iman, tidak bisa meloncat. Daud tidak akan pernah bisa mengalahkan Goliat tanpa dia mengalahkan singa dan beruang terlebih dahulu. Belajarlah hidup dalam iman, bukan hanya mengimani.

Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s